Jumat, 29 April 2016

Ngopi

Ibarat botol ketemu tutupnya, pas banget. Saat saya hendak berangkat ke Bekasi, sapaan dari Febi melalui pesan singkat. Tujuan ke Bekasi adalah silaturahim ke saudara dan juga teman-teman. Tanpa basa basi langsung saya balas sapaannya, “lembur teu feb?”. “teu mar, ini dikosan. Tapi isukan ka Bandung jigana, ibu saya sakit” jawabnya. “Oke feb, urang mampir ke kosan nyak”.
Seonggok baja yang diberi label vespa menemani perjalanan menyusuri jalanan Karawang – Bekasi. Lampu depan yang tak lebih terang dari flash HP memaksa saya melajukannya secara perlahan tapi pasti, alon-alon asal kelakon begitu kata orang Jawa, sing penting selamat. Lokasi TKP tidak jauh dari kawasan industri Jababeka. Karena sebelumnya sudah pernah mampir, maka tak terlalu sulit mencari lokasinya.
“Kumaha mar?” “Alhamdulillah sehat feb”. Seperti halnya tuan rumah kepada tamunya yang menanyakan, “Sudah makan belum mar? kalau belum pesan aja mie di warung depan sekalian kopi juga gak apa apa”.
“Udud mar itu ada banyak, udah lulus, udah kerja ini, udud atuh haha”
“Haha, iya feb. bukan masalah udah lulus atau belum lulus, udah kerja atau belum kerja, membunuhmu atau membunuhku, banyak juga yang ngudud tapi belum meninggal, yang nggak ngudud juga belum meninggal, ini mah masalah idealisme euy *sok iye hahaha”
Intermezo sebelum memulai obrolan-obrolan yang mungkin berfaedah. Hehe.
“Gimana mar anak-anak yang diterima PLN, selain 4 orang ada lagi nggak?”
“Terakhir mah Eki sama Tri Fani lolos ke tahap lab kalau nggak salah feb”.
“Saya belum kebuka hatinya euy buat ikutan tes PLN mar, ya selain karena belum dapat izin”
“Saya juga kayaknya hanya gengsi aja feb pengen jadi bagian dari PLN, ya pertama dan utama karena ibu yang tinggal sendiri di rumah, sedangkan PLN harus siap ditempatkan seluruh Indonesia. Katanya di PLN terjamin nantinya”.
      “Itu dulu, kedepannya kita juga nggak tau kayak gimana”
“Iya juga feb, apalagi ada program pensiun juga buat perusahaan swasta”
Dari PLN, barulah Febi memulai segmen ngopi = ngobrol perkara upi. Meskipun dia pernah bilang “saya udah nggak pengen berurusan kampus lagi mar, pengen fokus ke aktivitas kerjaan”. Tapi tetap saja obrolannya mengarah kesana. Ada unek-uneknya yang ingin disampaikan ke kampus, baik ke himpunan ataupun ke prodi Teknik Elektro. Yaa ini sebagai bukti kepeduliannya terhadap kampus, walaupun statusnya bukan lagi mahasiswa tetapi alumni.
Awal ngopi dimulai dari perkembangan prodi Teknik Elektro, TEUAS. “Seharusnya prodi mulai bersiap dan terus melebarkan sayapnya. Syarat sidang atau pra sidang bukan lagi berkas-berkas yang √°dministratif’ tetapi bagaimana syarat kedepannya bisa dipergunakan sebagaimana mestinya, seperti nilai TOEFL. TOEFL ini sangat penting karena beberapa perusahaan BUMN mensyaratkan nilai TOEFL, terlebih lagi yang punya niat melanjutkan sekolah, tentunya nilai TOEFL adalah syarat mutlaknya. Nilai TOEFL lokal pun tak masalah, missal PTESOL UPI, ada yang menggunakan PTESOL UPI lolos administratif perusahaan BUMN. Prodi lain pun sudah jauh-jauh hari mensyaratkan nilai TOEFL sebagai kelulusannya. Masa kita masih seperti ini terus. Apa susahnya misalnya fakultas atau prodi bekerja sama dengan balai Bahasa upi atau sebagai mahasiswa harus bisa ngurus sendiri. Apalagi Indonesia juga sudah memasuki yang katanya MEA”
“Setuju feb. Saya pernah nanya ke temen-temen, syarat lulus mereka harus punya nilai TOEFL misal minimal 450. Tidak usah TOEFL sekelas ITP atau IBT, cukup PTESOL saja dulu. Satu lagi, prodi TE perlu adanya ujian komprehensif sebagai syarat kelulusannya. Lagi-lagi saya nanya ke temen-temen pun, mereka ada ujian kompre syarat lulusnya. Bahkan bukan kampus yang wah pun ada semacam ujian kompre, misal jurusan tarbiyah biologi. Tujuan ujian komprehensif untuk menilai, mengukur ilmu kelektroannya. Sampai sejauh mana pemahaman mahasiswanya, yang mungkin nantinya bisa dijadikan evaluasi kurikulum ataupun pembelajarannya. Meskipun kelak setelah lulus si mahasiswa akan menjadi pengusaha, designer, atlit dan lainnya yang tak ada sangkut pautnya dengan elektro, akan tetapi si mahasiswa ini sudah masuk ke area elektro entah itu karena tak ada pilihan lain, pilihan sendiri, ikut-ikutan, ataupun paksaan. Empat tahun berkutik dengan arus, tegangan, daya. Minimal ada output yang bisa jadi ciri lulusan elektro (listrik), minimal mengetahui dasar-dasarnya. Bagaimana listrik dibangkitkan, prosesnya sampai bisa dinikmati ke rumah-rumah warga. Saya merasakan sendiri feb, entah karena tidak ada ujian kompre atau kelalaian pribadi. Saya yang tak ada bayangan tes apa yang dijalani, modal nekad saja. Pas pertama kali tes di sebuah perusahan, kemudian ditanya dan disuruh gambar wiring star delta. Aduh, benar-benar tidak ada bayangan wiring star delta, sudah lama tak dibuka buku matkul praktik, rasanya malu banget, malu pada almamater. Dari situlah, mungkin jika ada ujian komprhensif mahasiswa dapat mengingat kembali basic elektro, seperti wiring star delta, segitiga daya dan kawan-kawannya”.
“Bisa bisa mar. Ujian kompre bisa dijadikan salah satu tolak ukur dan persiapan mengikuti tes kerja yang jalurnya masih elektro”
“Kayaknya yang baru pada lulus pun feb, kalau ditanya wiring star delta, ada sebagian yang nggak bisa. Dengan adanya ujian kompre ini mahasiswa mau tidak mau, suka tidak suka harus membuka lembaran-lembaran matkul, mengingat kembali, belajar lagi kelektroannya. Sebagai bekal untuk tes kerja”
“Saya juga ngerasain mar, yang namanya CT itu bentuknya seperti apa, ternyata beratnya berkilo-kilo”
“Hahahaha, iya feb. Saya juga pas udah terjun jadi tau yang namanya bearing dengan penjelasan kodenya, grease, CT, VCB, beserta nama tools kerjanya. Masih bertahap”.
“Memang tugas engineer adalah modifikasi, tidak langsung berhubungan dengan mesin (lapangan). Tapi kan bagaimana mau modifikasi, alatnya aja nggak kenal, nggak tau yang mana. Pengennya duduk bareng diskusi antara civitas akademik yang terdiri dari mahasiswa dan dosen dengan para alumni. Diskusi berbagai hal terkait dengan perkembangan dunia kampus dan dunia kerja. Bagaimana mensinergikan masukan para alumni terhadap kurikulum prodi. Sudah banyak yang masuk PLN, PJBS misalnya. Sudah waktunya prodi atau fakultas menjalin kerjasama dengan berbagai perusahaan agar lulusannya tidak bimbang dengan karirnya, bagi yang ingin berkarir. Tapi entah kapan waktunya mar. Pengen banget ngomong begini di ruang diskusi formal”.
“Kampus yang dulu namanya sama-sama ikip aja udah ada career center untuk engineering. Masa UPI belum. Boro-boro engineering, karir upi nya masih kosong. FPTK sudah seharusnya mengkoordinir kerjasama dengan perusahaan. Ada divisi pusat pengembangan karir atau apapun namanya”.
“Mumpung alumninya masih sedikit prodi kita ini mar. Masih bisa didata dengan baik. Saya yakin mar, prodi nggak punya data-data alumni. Pas akreditasi aja, pak Jaja nyariin saya terus terkait dengan data alumni”.
Setelah sripit kopi, kami meneruskan obrolannya. Karena Febi pernah diberi wejangan yang ngena banget oleh Pak Aceng, walaubagaimanapun harus ingat ke himpunan. Obrolan berganti ke himpunan.
“Pengurus sekarang udah nggak curhat ke saya lagi mar. Katanya malu sendiri, jadi saran-saran yang masuk tidak digubris. Padahalkan saya udah bilang begini-begini, yang sudah-sudah itu begini dan begitu. Pilah dan pilih mana yang bagus dan kurang bagus”.
“Ada juga yang tiba-tiba nanya, kang gimana yah biar pab bagus. Loh ini permasalahannya aja nggak tau gimana mau ngasih solusi. Ada solusi berarti ada masalah. Dari masalah tersebut solusi dapat diambil bukan?”
“Himpunan sekarang sedang berada di zona nyaman tapi tidak aman. Saking nyamannya lupa akan esensi berhimpunan. Tidak aman kalau dibiarkan begini terus menerus”.
“Mungkin harus ada ‘interfensi’ lagi feb dari senior?”
“Ya memang, peran senior sangat penting sebenernya mengarahkan kemana arah himpunan. Tapi kadang pelaksana menganggapnya, menanggapinya, ngapain sih senior ikut campur. Padahal salah besar, di senior lah evaluasi-evaluasi periode sebelumnya yang harusnya didiskusikan”.
“Sok mar kalau ada waktu datang ke mumas, kalau ada. Kalau nggak ada, jangan dipaksakan. Yaa, di CV juga nyantumin himpunan kan? Hehe”
“Iya feb insya Allah”.


Cangkir menyisakan ampas kopi. Selamat berperan. 

0 komentar:

Posting Komentar